ajining diri soko lathi aksara jawa
b Tiba soko pit c. Latihan Pramuka 6. Mulane yen mangsa udan ngene iki kudu nggawa payung. Mangsa tegese . a. Nginep b. Turu c. Wayah 7. Pacelathon kang isine nuwuhake rasa seneng yaiku . a. Tragedi b. Komedi c. Komedi tragedi 8. Tembung pitakon “kapan” kanggo takon bab . a. Kahanan b. Wong c. Wektu 9. jenenge adhimu
Aksarajawa, pasangan, sandangan aksara jawa, aksara rekan, aksara murda, aksara wilangan dan cara menulis dengan benar penjelasan lengkap aksara jawa Kalian hanya perlu mempelajarinya secara perlahan serta membiasakan diri dengan bentuk-bentuk hurufnya. Apabila ada kritik, saran atau pertanyaan silahkan berkomentar di bawah. Originally
Sebagaimanapepatah Jawa, ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Untuk dihargai orang lain, tergantung dari apa yang kita bicarakan dan busana yang kita kenakan. Dengan berbusana Jawa, kita turut serta memajukan obyek-obyek pemajuan kebudayaan,” ujar Ries yang juga berprofesi di bidang arsitektur Jawa itu.
11Filosofi Hidup Orang Jawa yang Bisa Bikin Kamu Lebih Bahagia. Setiap orang bisa menerapkannya! Dok. Legacy Pictures. Setiap manusia, pasti punya falsafah masing-masing. Falsafah atau filosofi dipegang teguh dalam perjalanan hidup. Indonesia punya banyak sekali falsafah baik dan unik. Salah satunya adalah falsafah atau filosofi hidup orang Jawa.
PeribahasaJawa berawalan huruf A. 1. Adhang-adhang tetese embun. Tegese njagakake barang mung sak oleh-olehe. Peribahasa ini berarti mengharap sesuatu dengan hasil apa-adanya. Bisa diartikan bersyukur dalam pemberian Tuhan. Tetapi
4 Aksara Jawa Kuna tataran pungkasan, digunakake taun 925 1250 Masehi, tinemu ing Prasasti Airlangga. 5. Aksara Majapahit, digunakake ing taun 1250 1450 Masehi. Tinemu ing Prasasti Singosari lan Malang sarta ing lontar Kunjarakarna. 6. Aksara Jawa Anyar, digunakake taun 1500 Masehi nganti saiki. Tinemu ing Kitab Bonang lan buku-buku sabubare iku.
1 Provinsi Jawa Tengah. 2. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 3. Provinsi Jawa Timur. Bagi penduduk daerah Jakarta atau daerah barat pulau Jawa, mereka merasa bukan bagian dari Tanah Jawa (Daerah Jawa), sehingga mereka jika pergi ke daerah timur, mereka menyebutnya pergi ke Jawa.
AJININGDIRI SOKO LATHI AJINING ROGO SOKO BUSONO Bagi anda yang kebetulan terlahir sebagai orang jawa mungkin pernah mendengar kata-kata diatas atau bahkan sudah hafal diluar kepala berikut arti atau makna sebenarnya. namun bagi anda pembaca yang belum tahu artinya, maka berikut akan coba saya jelaskan secara singkat, dan semoga
AjiningDiri Ana Ing Lathi, No Cocot Bodol. Agustus 05, 2020 – by Nanang Kusrianto 0 "Ajining Diri Ana Ing Lathi". Sebaris kata itu mendadak viral di dunia permusikan. Gegara sebuah group band " Weird Genius" memasukan kedalam bait sa'ir lagunya yang selainnya itu semua dalam bahasa Inggris yang dinyanyikan oleh Shara Fajira.
Ajining diri gumantong ono ing lathi”, Yang artinya bahwa harga diri seseorang dapat dilihat dari cara dia berbicara. Peribahasa di atas adalah salah satu di antara banyak peribahasa yang sangat kental di masyarakat Jawa dan di jaga baik oleh mereka. Kelebihan peribahasa Jawa yang utama adalah bahwa perbahasa Jawa mengandung nilai-nilai
. Becik Ketitik Ala Ketara, Petuah tersebut artinya; “baik terbukti, buruk kelihatan sendiri.”Arti atau makna petuah "Becik Ketitik Ala Ketara" adalah anjuran kepada siapa pun untuk tidak takut berbuat atau mengatakan kebaikan. Setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil dan sesederhana apa pun kebaikan itu, suatu hari nanti pasti akan terlihat manfaatnya. Dan, para pelakunya pasti akan selalu dihargai sekecil apa pun keburukan yang kita lakukan, suatu saat nanti akan terlihat juga akibatnya. Petuah ini sejalan dengan kata pepatah, “sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga”.Pengertian lain dari petuah Jawa tersebut yaitu, semua perbuatan, entah perbuatan baik maupun buruk, akan senantiasa memperoleh balasan yang setimpal. Oleh karena itu, melalui petuah ini, kita diingatkan agar tidak menyesali kebaikan yang sudah kita lakukan kepada orang lain. Awalnya, mungkin tidak terlihat manfaatnya. Namun, suatu ketika kebaikan itu akan terasa pengaruhnya, bisa kita sendiri atau anak cucu yang merasakan nantinya. Selain itu, jangan merasa aman dengan keburukan atau kejahatan yang kita lakukan. Sekecil apa pun kejahatan yang kita lakukan pada orang lain, suatu saat pasti akan menanggung ini kalimat petuah "Becik Ketitik Ala Ketara" yen ditulis nganggo aksara Jawa;꧋ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ ꦏꦼꦠꦶꦠꦶꦏ꧀꧈ ꦲꦭ ꦏꦼꦠꦫ꧋Jika kalimat petuah "Becik Ketitik Ala Ketara" dijabarkan penulisannya dalam aksara jawa antara lain sebagai berikut;ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ ==> becikꦏꦼꦠꦶꦠꦶꦏ꧀ ==> ketitikꦲꦭ ==> alaꦏꦼꦠꦫ ==> ketaraBaca jugaDemikian rangkuman "Becik Ketitik Ala Ketara, Aksara Jawa dan artinya dalam Bahasa Jawa" yang dapat kami sampaikan. Baca juga makna dan arti kata bijak Jawa menarik lainnya hanya di situs
– Pepatah merupakan jenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang tua. Secara umum dalam prinsip kepemimpinan, “ajining rogo soko busono, ajining diri soko lathi, yakni lakon kang sejati” bisa diartikan bahwa kemampuan menempatkan diri sesuai dengan busananya situasinya dan harga diri seseorang tergantung dijelaskan bahwa seorang pemimpin yang baik tidak berusaha mengintervensi dan memasuki dunia yang bukan dunianya. Seorang pemimpin juga harus dapat menempatkan ucapan dan kepandaiannya, karena hal ini dapat mendatangkan penghargaan bagi dirinya. Sikap seperti ini dapat dikatakan sebagai sikap eksplisit lagi, bisa diartikan bahwa pepatah ajining diri soko lathi berarti harga diri bisa diartikan sifat, kelakuan seseorang bisa dilihat dari cara bicaranya. Lathi di sini diartikan sebagai lidah. Seringkali seseorang mendapat masalah besar karena lidahnya, bisa dari cara bicaranya yang ngawur atau sembrono. Tapi tidak jarang pula kita mendapat suatu kemudahan karena menjaga lidah kita sering bicara kasar atau kotor maka dengan sendirinya orang lain akan menganggap kita adalah orang yang cenderung negatif, karena ucapan tidak jauh dari isi kepalanya. Sebaliknya jika lidah kita dijaga dengan berbicara yang positif dan sopan tentu akan membuat citra kita positif juga, tapi bukan berarti hal ini, lidah atau ucapan akan sangat berpengaruh terlebih lagi saat hidup bermasyarakat, sering kali cekcok antar tetangga terjadi karena lidah yang tak bisa dijaga. Fitnah sana-sini, mengumpat tidak tentu arah atau menggosip. Kenapa bisa sampai segitu parahnya? Memang sih panjang terowongan bisa diukur, tapi kalau panjang tenggorokan siapa yang tau, terlebih lagi bagi yang pandai bersilat Juga Tari Gandrung Banyuwangi dalam Pusaran SejarahKemudian ada sesama teman berantem yang diakibatkan karena saling mengejek padahal hanya bercanda, dan banyak sekali kejadiannya, yang mula ketawa saling ejek tetapi berujung saling pukul karena merasa tersinggung. Karena lidah bisa membawa masalah yang sangat besar apabila tidak dijaga dengan diri soko lathi dalam perkembangan Jawa, lidah akan sangat menjadi tolak ukur seseorang dalam menilai orang lain. Unggah-ungguh atau sopan santun dalam berbicara agaknya adalah suatu hal wajar yang harus ditaati, baik tua maupun muda. Maka, berpikirlah sebelum berucap, kalau kaki kita kesandung mungkin sakitnya akan hilang satu atau dua hari, tapi kalau lidah kita yang “kesleo” mungkin akan lebih panjang dan fatal rogo soko busono, secara kasar penampilan itu mewakili diri kita. Semisal kita melihat gelandangan atau pengemis dengan pakaian kumalnya, apa yang pertama kali kita fikirkan? Atau lebih gampangnya, di sekolah, kantor atau di mana saja kalau kita melihat orang dengan pakaian yang tidak disetrika atau lusuh pasti hal pertama yang terlintas adalah malas “dih ngurus pakaian sendiri aja malas apalagi ngurus yang lain”.Nah, itulah contoh hal pertama yang ada di pikiran orang saat melihat pakaian yang kurang rapi. Atau gini, pernahkah kita memakai pakaian yang kurang sopan? Sejatinya pakaian yang kita kenakan turut mewakili diri kita sendiri, kalau kita berpakaian rapi, sopan, dan wangi tentu akan menciptakan sebuah energi positif bagi kita dan sekitar. Pun sebaliknya jika apa yang kita kenakan tidak rapi atau bahkan belum dicuci. “Emang sih seseorang gak bisa dinilai cuma dari cara bicara dan pakaiannya, tapi gak ada salahnya untuk tetap menjaga lidah dan kerapian kita kan?”.Sebuah inner beauty akan terpancar dari apa yang kita ucapkan dan kita kenakan. Mulailah menghargai diri kita sendiri dimulai dengan menjaga lisan dan kerapian kita. Tak perlu mewah untuk terlihat cantik dan gagah, hanya perlu rapi untuk menjadikan kita seseorang yang elegan dan tak perlu pengawal untuk menjaga kita, selagi kita masih bisa menjaga lisan Juga Obati Dahaga Ngaji Ramadan di Pesantren, Alumni Krapyak Buka Kelas “NyantriKilat”Tidak dapat kita abaikan bahwa sikap hidup orang Jawa yang menjunjung tinggi nilai-nilai positif dalam kehidupan. Dalam interaksi antar personal di masyarakat, mereka selalu saling menjaga segala kata dan perbuatan untuk tidak menyakiti hati orang begitu menghargai persahabatan sehingga eksistensi orang lain sangat dijunjung sebagai sesuatu yang sangat penting. Mereka tidak ingin orang lain atau dirinya mengalami sakit hati atau tersinggung oleh perkataan dan perbuatan yang dilakukan. Sebab bagi orang Jawa, ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono yang berarti, harga diri seseorang dari lidahnya omongannya, harga badan dari tersebut diterapkan juga bagi seorang pemimpin, yang mana pemimpin tersebut harus tetap menjaga wibawanya dengan selalu menjaga harga dirinya, berperilaku dan berkata jujur, amanah, dan adil sama ketinggalan pula dengan yang disebut busono dalam kepemimpinan, yakni pemimpin harus sesuai dengan kapasitas yang dimiliki pada diri pemimpin tersebut sesuai dengan ahli yang dimilikinya, sehingga untuk meminimalisir munculnya kata dzolim dalam kepemimpinan. Dari kedua poin di atas, pemimpin bisa dikatakan sebagai pemimpin yang profesional.
siapin kopi dulu gan karena akan ada oot berkelanjutan Menurut wiki buku Pepatah merupakan jenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang tua-tua. Pengertian pepatah adalah pribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang-orang tua. Spoiler for image Oke ane akan sedikit membahas ceileh bahasanya tentang pepatah jawa ajining diri soko rogo soko busono. Bagi ente semua yang 'kebetulan' lahir dijawa pasti sudah tak asing dengan pepatah berikut. Iya pepatah yang sarat akan makna tentang berperilaku didunia yang tak seberapa lama ini Pepatah ajining diri soko lathi berarti harga diri bisa diartikan sifat, kelakuan seseorang bisa dilihat dari cara bicaranya. Lathi Disini diartikan sebagai lidah. Seringkali seseorang mendapat masalah besar karena lidahnya, bisa dari cara bicaranya yang ngawur atau sembrono. Tapi tak jarang pula kita mendapat suatu kemudahan karena menjaga lidah kita. Jika ente sering bicara kasar atau kotor maka dengan sendirinya orang lain akan menganggap ente adalah orang yang cenderung negatif, karena ucapan gak jauh dari isi kepalanya. Sebaliknya jika lidah ente dijaga dengan berbicara yang positif & sopan tentu akan membuat citra ente positif juga bukan berarti pencitraan juga yak . Dalam Hal ini lidah/ucapan akan sangat berpengaruh terlebih lagi saat hidup bermasyarakat, sering kali cekcok antar tetangga terjadi karena lidah yang tak bisa dijaga. Fitnah sana-sini, mengumpat tak tentu arah atau menggosip. Kenapa bisa sampe segitu parahnya sih? Iya lah panjang terowongan bisa diukur, tapi kalau panjang tenggorokan siapa yang tau, terlebih bagi yang pandai bersilat lidah. Terus Apa ada sesama temen berantem gegara saling ejek yang padahal hanya candaan? Banyak gan, yang mulanya ketawa saling ejek tapi akhirnya saling pukul karena ngerasa tersinggung. Iya lidah bisa membawa masalah yang sangat besar apabila gak dijaga dengan baik. ajining diri soko lathi dalam perkembangan jawa, lidah akan sangat menjadi tolak ukur seseorang dalam menilai orang lain. Unggah ungguh atau sopan santun dalam berbicara agaknya adalah suatu hal wajib yang harus ditaati, baik tua maupun muda. Berpikirlah sebelum berucap, Kalau kaki ente kesandung mungkin sakitnya akan hilang satu atau dua hari, tapi kalau lidah ente yang "keseleo" mungkin akan lebih panjang dan fatal akibatnya. ajining rogo soko busono Secara kasar penampilan itu mewakili diri kita. Coba ente tengok maaf gelandangan atau pengemis dengan pakaian kumalnya, apa yang pertama kali ente pikirkan? atau lebih gampangnya, disekolah dikantor atau dimana aja kalo ente ngeliat orang dengan pakaian yang gak disetrika atau lusuh pasti hal pertama yang terlintas adalah malas "dih ngurus pakaian sendiri aja malas apalagi ngurus yang lain" nah itulah contoh hal pertama yang ada dipikiran orang saat melihat pakaian yang kurang rapi. Atau gini deh, pernahkah ente mendapat tatapan sinis atau bahkan tatapan napsu saat kita memakai pakaian yang kurang sopan?. Sejatinya pakaian yang kita kenakan turut mewakili diri kita sendiri, kalau kita berpakaian rapi, sopan dan wangi tentu akan menciptakan sebuah energi positif bagi kita dan sekitar pun sebaliknya jika apa yang kita kenakan gak rapi atau bahkan belum dicuci. Emang sih seseorang gak bisa dinilai cuma dari cara bicara & pakaian nya, tapi gak ada salahnya untuk tetap menjaga lidah dan kerapian kita kan?. Sebuah inner beauty akan terpancar dari apa yang kita ucapkan dan kita kenakan. Mulailah menghargai diri kita sendiri dimulai dengan menjaga lisan & kerapian kita. Tak perlu mewah untuk terlihat cantik dan gagah, hanya perlu rapi untuk menjadikan kita seseorang yang elegan dan Tak perlu pengawal untuk menjaga kita, selagi kita masih bisa menjaga lisan kita. ajining diri soko lathi Ajining rogo soko busonoQuotecuma opini sambil ngopi Maaf kalau ada salah kata dari tees Kalo berkenan boleh dong
Kalau dulu saya sudah pernah bahas tentang falsafah jawa yang berkata Bibit, Bebet dan Bobot, kali ini saya akan bahasa falsafah jawa yang juga mungkin sering kita dengar Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana, Agama Agemaning diri saka lathi, mengandung makna bahwa seseorang dapat dihargai itu berdasarkan ucapannya atau lidahnya. Contohnya adalah orang akan lebih dihargai di masyarakat ketika tidak bersikap sombong, atau dia dapat bertata krama dengan baik. Kalau Anda adalah orang yang berilmu, ya jangan sombong, sebaliknya cobalah menyebarkan ilmu Anda itu dengan bahasa yang santun dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Bisa juga diartikan bahwa dalam setiap kehidupan kita harus selalu menjaga setiap ucapan agar senantiasa berucap benar dan tidak berkata dusta. Dengan kata lain hal ini sama dengan INTEGRITAS, yaitu kesesuaian antara ucapan dan raga saka busana, mengandung makna bahwa berharganya seseorang itu dinilai dari penampilan atau busana yang ia pakai. Jangan karena alasan ingin bersikap sederhana meski kaya dan pintar, lalu Anda mengenakan baju lucek, bahkan pakai kaos oblong di acara-acara resmi. Berpenampilanlah sesuai tempatnya. Kalau di rumah, Anda bolehlah mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Tetapi kalau di acara resmi, misal rapat, kurang tepat jika mengenakan pakaian seperti itu. Juga selain baju, tubuh Anda harus diperhatikan. Muka kalau perlu di facial biar kinclong dan tambah cakep. Rambut yang ubanan juga di styling dan coloring biar kelihatan wibawanya. Kalau gemuk, ya diet biar kurus dan makin sehat, sehingga kelihatan sporty. Pakai deodorant dan parfum agar tidak agemaning diri, mengandung arti bahwa agama itu merupakan pakaian untuk diri kita. Maksud pakaian di sini adalah dimanapun kita, tingkah laku kita harus sesuai dengan aturan dan norma-norma agama yang kita anut. Kalau kita mengikuti aturan-aturan yang sudah ditentukan oleh agama, pasti hidup kita bakalan penjelasan falsafah jawa paribasan jawa ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana, agama agemaning diri. Semoga setelah membaca artikel ini, kehidupan Anda diubahkan 🙂 1517 Total Views 1 Views Today Navigasi pos
W. Koko18 Februari 2022 0841Jawaban terverifikasiHalo, Huda, terimakasih sudah bertanya di Roboguru. Kakak bantu jawab ya. Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah C. Kepribadian. Berikut ini penjelasannya “Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono". Artinya, harga diri seseorang dari lidahnya omongannya, dan harga diri badan dari pakaian. Dengan demikian, jawaban yang tepat seperti paparan di atas. Semoga membantu.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Ajining diri Gumantung ana ing Lathi..Sebuah ungkapan jawa yang mungkin pernah kita dengar, namun maknanya kita kurang begitu faham. Ajining diri ana ing lathi maksudnya bahwa kepribadian diri terdapat pada lidahnya atau lisannya. Mbah - mbah kita dahulu sudah memberikan pesan atau nasehat baik yang sampai saat ini masih menjadi landasan dalam bersikap dan beragama. Lisan kita sangat penting untuk dijaga, lisan juga merupakan manifestasi kepribadian diri. Jangan sampai lisan ini tidak terjaga dan mudah mengumbar ucapan yang seringkali menyakiti hati orang lain. " Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik, atau lebih baik diam ". Hadits yang masyhur dan penting untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari - hari. Apalagi zaman sekarang, orang mudah sekali berargumen di media. Mesti harus bisa menjaga dan menahan lidah untuk berucap. Menahan diri untuk tidak mudah mengumbar lisanMedia sosial menjadi aktifitas utama seseorang dalam berkomunikasi dengan orang, baik itu saudara, rekan kerja, teman dan sebagainya. Lisan kita terwakili oleh ketikan jari tangan dalam memberikan komentar atau argumen. Seringkali perselisihan dan kesalahpahaman muncul dalam berkomunikasi di media sosial. Hal itu salah satu penyebabnya adalah tidak bisa menahan diri untuk lah dialog penting, diskusi dan berselisih paham, namun ketika hal tersebut dikhawatirkan akan timbul gejolak dan terjadi debat kusir, maka solusinya adalah menghentikan dialog dan menahan diri untuk tidak mudah berkomentar panjang yang akan menambah perselisihan panjang. Media whatsapp, salah satunya menjadi pilihan komunikasi para komunitas dari alumni sekolah, rekan kerja sampai komunitas tertentu yang didalamnya anggota dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Di situ perlu kedewasaan berpikir dan berkomentar, bagaimana kita menahan jari kita untuk tidak melempar postingan yang mengarah kepada sebelum Sharing 1 2 Lihat Bahasa Selengkapnya
Ajining Diri Soko Lathi, Ajining Rogo soko Busono Di postingan kali ini gue bakal menulis tentang salah satu pepatah Jawa yang sangat bagus untuk dipelajari. Bagi kalian yang orang Jawa pasti sudah tahu pepatah ini kan?? bagus lagi kalau kalian dapat memahami arti pepatah Jawa diatas. Bagi kalian yang belum paham dengan makna pepatah tersebut, gue bakal menjelaskannya. Pepatah ajining diri soko lathi terjemahannya adalah harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya Lathi=lidah. Kebanyakan orang menilai orang lain lewat perkataan yang dikeluarkan dari mulutnya. Anggapan bahwa lidah lebih tajam daripada pedang bisa dibilang benar. Karena lidah dapat menyakiti seseorang lebih kejam daripada pedang. Kembali ke topik tutur kata, jika kita sering berkata kasar maka orang lain akan mengenal kita sebagai pribadi yang kasar. Jika tutur kata kita halus, baik, dan sopan maka orang lain akan menilai kita sebagai pribadi yang santun dan ramah. Pepatah ajining diri soko lathi mengajarkan kita untuk selalu menjaga setiap tutur kata kita. Jadi betapa besar dan pentingnya pengaruh ucapan kita terhadap kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dan pepatah ajining rogo soko busono memiliki arti penampilan seseorang ditentukan dari cara berpakaiannya. Penampilan dapat menunjukan karakter kita di mata orang lain. Jika kita melihat ada orang yang berpenampilan rapi maka kita beranggapan bahwa orang itu mencintai kebersihan dan kerapian, dan sebaliknya saat kita melihat ada orang yang berpakaian kusut dan berpenampilan kotor kita akan menilainya sebagai karakter yang kotor, malas, dan jorok. Pakaian juga dapat menunjukkan status sosial kita di masyarakat, dan bahkan secara tidak sadar pakaian di masyarakat dapat menimbulkan persepsi seseorang terhadap kita. Contoh seseorang berpakaian compang-camping = pengemis, seseorang berpakaian kemeja rapi, berdasi, dan berjas = orang kerja. Pepatah ini mengajarkan kita bahwa kita harus memperhatikan cara berpakaian kita di masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa pepatah ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono memberi pelajaran bagi kita untuk dapat menilai diri sendiri dn orang lain dengan memperhatikan setiap detail yang ada. Dan agar kita dapat diterima di masyarakat sebagai pribadi yang baik itu memang tidak mudah. Karena sering kali sesuatu yang kita anggap benar bisa saja salah di mata orang lain, dan yang orang lain anggap benar bisa saja kita beranggapan itu salah. Namun semua itu tergantung dari pribadi masing-masing. Kalian juga dapat memakai pepatah ini untuk pedoman kalian di masyarakat..... ^^ ^^
BANTUL – Islam mengajarkan umat muslim untuk senantiasa menjaga lisan. Alquran dalam Surat Al Baqarah ayat 263 menyatakan, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf adalah lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan perasaan si penerima.” Dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi Muhammad berpesan “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau kalau tidak bisa hendaknya dia diam.” “Kalau dalam ungkapan Jawa itu, kita ini bisa menjadi orang yang dihormati dari tutur kata kita. Ajining rogo ing busono, ajining diri ing lathi,” tutur Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Sabtu 5/6. Falsafah Jawa “Ajining Diri Soko Lathi Ajining Rogo Soko Busono” yang dikutip Mu’ti dalam forum Silaturahim Syawalan Keluarga Besar Muhammadiyah Kabupaten Bantul itu adalah pesan bahwa setiap manusia wajib menjaga tutur katanya kepada manusia lain. “Kita dihargai secara fisik dari busana kita, tapi kepribadian kita, diri kita dihargai itu dari kemampuan ktia bertutur kata. Dan itulah kunci bagaimana kita bisa bersilaturahim,” terang Mu’ti. Pesan-pesan Alquran, hadis Nabi dan hikmah kebudayaan setempat itu menurut Mu’ti patut dipegang oleh warga Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari. Utamanya, untuk menjaga persaudaraan agar tidak renggang karena kesalahan dalam bertutur kata. “Bagaimana agar kita bisa terus saling bersilaturahim hendaknya kita bertutur kata yang mulia. Jangan menyakiti orang lain, jangan ngatoni meledek orang lain,” pesannya sambil mengutip sebuah mahfuzat atau pepatah Arab. “Salamatul insan fi hifzil lisan. Keselamatan seseorang itu tegantung dari bagaimana dia menjaga lisannya,” tutup Mu’ti. Hits 3481
Bagi masyarakat jawa banyak sekali kebiasaan yang diajarkan oleh nenek moyang. Kebiasaan tersebut berkembang menjadi tradisi. Tradisi berkembang menjadi identitas dan kebudayaan. Tradisi tersebut diperlakukan secara turun – temurun dari generasi ke generasi. Ada yang masih bertahan hingga kini. Banyak pula yang sudah hilang digilas perkembangan jaman. Sebagai salah satu generasi penerus yang terlahir di lingkungan keluarga Jawa. Kami pun di didik dan diberikan pengetahuan budaya leluhur kami sedari kecil oleh orangtua. Dengan tujuan agar kami,”nguri-nguri”, atau ikut melestarikan budaya asal muasal kami. Diantara banyak sekali ajaran yang dicontohkan oleh orangtua, salah satunya adalah yang berkenaan dengan membangun kepribadian. Ya budaya jawa memang merambah segala aspek. Yang paling fundamental dan sarat makna diawali bagaimana mengenali diri kita sendiri. Salah satu ajaran tentang kepribadian mungkin tidak asing lagi dan masih dikenal hingga sekarang. Ajaran tersebut terkandung pada pepatah jawa,”Ajining dhiri saka lathi, Ajining raga saka busana.” Yang artinya harga diri manusia terletak pada mulutnya atau kata-katanya. Harga diri manusia juga tercermin dari penampilan atau pakaian yang dikenakannya. Ada banyak salah paham menangkap arti dari pepatah ini. Yang terkesan seolah mengajarkan kita untuk bersikap sombong dan hanya mengutamakan penampilan fisik. Tentu saja pengertiannya tidak sesempit itu. Bila ditelaah lebih jauh pepatah tersebut mengajarkan kejujuran. Tidak semua orang mampu berkata atau berbuat jujur. Tidak semua orang memiliki hati nurani yang murni untuk berjalan pada arah kebenaran. Hanya mereka yang memiliki kualitas diri yang luar biasa, takut pada Tuhan yang mampu melakukannya. Selain daripada kejujuran. Sebagai manusia yang dianugerahi banyak kelebihan. Juga kesempurnaan dibanding ciptaan Tuhan yang lain. Kita diharapkan mampu menjaga dan menghargai apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Cara menjaganya adalah dengan merawat sebaik mungkin apa yang melekat pada diri kita dengan hal-hal yang positif dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik hari demi hari. Jadi pengertiannya tidak terbatas bahwa kita harus mementingkan penampilan fisik atau luarnya saja. Pakaian dan aksesorisnya memang dianjurkan, untuk memberi nilai tambah yang baik. Namun bukan terletak pada kemewahannya. Tetapi utamanya pada bagaimana kita mampu menjaga kebersihan, kerapian dan keserasian diri kita. Intinya, kepribadian diri yang harus dijaga dan terus diperbaiki adalah yang berasal dari dalam. Yang meliputi pikiran, hati, dan potensi yang kita miliki. Lalu selanjutnya memperbaiki penampilan fisik semampu kita. Karena harga diri yang sebenarnya tercermin dari kualitas pikiran, kata-kata dan perbuatan. Sejauh mana kita memberi dampak positif juga manfaat yang positif untuk lingkungan sekitar kita. 30DWC Batch32 Day17 2orosquad Post navigation